Assalamu'alaikum...
welcome to Rv OnShop!
kami meyediakan kreasi dari flanel dan kawan-kawan...
welcome to Rv OnShop!
kami meyediakan kreasi dari flanel dan kawan-kawan...
Selasa, 11 Oktober 2011
Terlambat
Lexa turun dari taxi dan mengejar Etan, cowok yang sekarang masih berstatus sebagai pacarnya. Tapi, cowok berambut gondrong itu terus berjalan tanpa peduli dengan teriakan Lexa yang semakin keras. Teriakan itu kini meredup, berubah menjadi isakan tangis. Lexa berhenti di lobi bandara. Tubuhnya lemas. Dia terduduk di tengah-tengah keramaian bandara pagi itu. Semua orang melihatnya dengan tatapan aneh. “Tan, loe jahat!”,teriak Lexa sebelum sebelum beberapa detik kemudian dia pingsan
Lexa terbaring lemah di ruang ICU rumah sakit. Infus dan selang oksigen melekat di tangan kiri dan hidungnya. Lexa mengidap penyakit yang parah selama ini. Namun orang-orang yang didekatnya ga’ pernah tau karena dia ga’ pernah mengeluh tentang sakit yang sering dia rasakan pada bagian dadanya.
”Pura-pura sehat di depan semua orang Lex?”tanya Dio.
“Maksud loe?”
“Loe sakit. Tapi loe pura-pura baik-baik aja di depan kami. Now?”
”Ga’ ada yang bakalan kehilangan gue Di kalo gue mati. Ngapain gue nunjukin ketidakberdayaan gue? Orang ga’ ada yang peduli. Mereka malah akan nertawain gue. Lexa si pecundang. Cih…”
“Trus Etan? Dia ga’ tau Lex kalo loe sakit”
“Dia ga’ peduli ma gue Di! Stop say his name. He hurt me…”
Dio diam mematung. Dia tau Etan bukan orang brengsek yang gampang mainin perasaan cewek. Tapi dia juga ga’ tau apa alasan Etan memilih pindah ke Jogja, dan meninggalkan Lexa.
“Loe benci ma dia Lex?”
Lexa tertegun,”Gue ga’ tau. Dia cinta pertama gue Di. Dari dulu…Tapi, lebih baik kaya’ gini. Dia ga’ perlu merasa sedih saat waktu gue tiba.”
“Ngomong apa sih loe! Loe bakal baik-baik aja. Loe bakal bareng Etan lagi kaya’ dulu.”
“Ga’ akan pernah terjadi Di.”
“Denger ya Lex, gue akan bawa Etan ke sini. Ke Jakarta. Gue janji!” Nada bicara Etan sedikit mengeras.
Mata Lexa berair,” Dia ga’ bakal kembali. Gue sekarat. Inilah kenyataannya.”
Kerongkongan Dio tercekat. Matanya menatap Lexa sendu. Seharusnya dia memberi semangat buat Lexa. Bukan malah memberi janji yang dia sendiri ga’ yakin bisa mewujudkannya. Karena dia sama sekali ga’ mengerti alasan Etan melakukan semuanya. Karena dia ga’ bisa membiarkan dirinya berdiam diri sementara Lexa, temannya sejak kecil menahan sakit yang ga’ bisa dibagi dengan siapapun. Karena Dio mencintai Lexa.
***
Dulu Lexa tinggal di Semarang bersama ayah ibunya. Tapi saat berusia 9 tahun, kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orangtuanya. Beruntung saat kecelakaan itu terjadi Lexa hanya mengalami gagar otak ringan.. Setelah kejadian itu dia tinggal bersama neneknya di Jakarta sebelum akhirnya neneknya juga tiada setahun setelah itu. Di usia yang masih sangat kecil, Lexa terlihat sangat tegar dengan semua yang dia alami. Dia sama sekali ga’ ingin merepotkan orang lain. Tawaran untuk hidup bersama tante dan omnya di London dia tolak. Dia memilih hidup sendiri bersama Mbok Nah, pengurusnya sejak dia bayi yang ikut pindah ke Jakarta demi Lexa yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Dan dia terlanjur betah di Jakarta karena dia menemukan teman yang selalu menemaninya saat dia merasa butuh orang untuk berbagi. Orang itu adalah Dio. Cowok yang sampai saat ini diam-diam menyimpan rasa sayang padanya.
Kedekatan Lexa dan Dio terus berlanjut sampai mereka kuliah. Bahkan banyak yang salah mengerti tentang kedekatan mereka karena saking akrabnya. Banyak pula cewek-cewek yang membenci Lexa karena dianggap memonopoli Dio, si Prince Charming. Dari SD, SMP, hingga SMA mereka selalu masuk dalam sekolahan yang sama. Tapi saat kuliah mereka harus terpisahkan. Dio kuliah di Bandung dan Lexa memilih untuk kuliah di Jakarta. Namun, kuliah di universitas yang berbeda ga’ menjadi penghalang buat mereka berdua untuk selalu bersama. Tiap weekend, Dio pulang ke Bandung hanya untuk menemui Lexa. Dia bilang, gue bosen Lex di Bandung. Ga, ada makhluk aneh kaya’ loe sih.
Sampai akhirnya 2 tahun yang lalu Lexa bertemu dengan Etan. Cowok berwajah tampan yang menjadi orang teristimewa. Etan adalah sosok cowok yang dewasa. Dia satu kampus dengan Lexa, tapi beda jurusan. Dia setahun lebih tua di banding Dio dan Lexa. Lexa bertemu dengannya saat mereka sama-sama menghadiri party tahunan yang diadakan kampus. Dan setelah pertemuan itu mereka berdua semakin dekat. Lexa sering menemani Etan latihan band dengan teman-temannya. Begitu juga Etan, dia sering menemani Lexa menyalurkan hobi icip-icip kulinernya. Banyak hal dalam diri Etan yang membuat Lexa kagum. Kesederhanaannya, sikapnya yang apa adanya, cara dia memandang semua masalah dan masih banyak lagi yang nyaris sempurna di mata Lexa
Semenjak itu hubungan Lexa dengan Dio menjadi renggang. Lexa lebih sering menghabiskan weekendnya bersama Etan dan jarang telfon, sms ataupun mengirim email buat Dio yang dulu menjadi rutinitasnya. Dio pun semakin jarang pulang ke Jakarta karena disibukkan kuliahnya yang padat. Saat Dio pulang, Lexa mengenalkan Etan sebagai pacarnya.
“Di, kenalin, Etan cowok gue lho…” Lexa tersenyum girang.
Ga’ pernah Dio melihat senyum Lexa selebar itu sejak 10 tahun terakhir. Saat itu hatinya benar-benar hancur. Tapi, dia selalu bisa menyembunyikannya.
“Wah..loe mau Tan, sama Lexa. Cewek aneh kaya’ gini.” Dio mengacak-acak rambut panjang Lexa dan kemudian merangkul tubuh mungil itu.
Lexa manyun dan mencubit pipi Dio,”Gue kan cantik Yo, loe ajah yang bego’ dari dulu ga’ nyadar.”
“Gue sayang dia Yo. Apapun yang terjadi. Makasih ya selama ini elo selalu nemenin Lexa. Dia banyak banget cerita tentang elo. Sekarang gantian gue yang akan jagain dia.” Etan tersenyum tipis. Sama sekali ga’ ada raut wajah kesal atau cemburu nampak saat melihat kedekatan pacarnya dengan Dio.
Dio tersenyum kecut,”Gue serahin Lexa ke elo Tan. Tapi awas ya kalo dia sampai nangis karena elo, gue bakal cari elo dan bikin perhitungan.”
Lexa tertawa keras,”Idih…sok jago banget loe Beo.”
“Ga’ apa-apa beb, Dio boleh kok mengancam kaya gitu. Tapi loe ga’ usah susah-susah nyari gue Yo. Tinggal cari aja Lexa. Karena gue akan selalu di sampingnya. Tapi, kalau takdir mengatakan gue ga’ bisa lagi nemenin dia suatu saat nanti, gue minta elo buat jaga Lexa. Karena Cuma elo yang bisa gue percaya.”
***
Dio tersadar dari lamunannya saat secangkir cappuccino mendarat di mejanya. Dilihatnya waitress yang menyerahkan cappuccino pesanannya dan tersenyum tanda terima kasih. Percakapan 2 tahun yang lalu dengan Etan masih teringat jelas. Kali pertama dia melihat Lexa begitu bahagia. Dan hari-hari berikutnya yang diwarnai oleh cerita Lexa tentang pacarnya, Etan yang ini, Etan yang itu. Tapi, sekarang yang dia lihat bukanlah Lexa yang ceria, tapi Lexa yang putus asa dan broken heart ditinggal pergi begitu saja oleh Etan. Dan Etan, entah kenapa temannya sejak dua tahun yang lalu itu pergi, padahal dua hari sebelumnya dia dan Lexa masih terlihat baik-baik saja.
Tan, brengsek loe! Lexa sakit! Elo harus ke Jkt, anjing!!!!
Dio memencet send to Etan pada layar hp-nya. Sudah berkali-kali dia sms dan telfon. Tapi sma sekali ga’ di respon oleh Etan. Dia memutar otak, bagaimana caranya agar dia bisa ngomong dengan Etan.
Dio kembali memegang hp-nya.
Mencari sebuah nama di contact person… Dan calling…
“Halo… ,”. Pemilik suara lembut itu Chaca. Sepupu Etan yang tak lain adalah pacarnya.
“Cha…,” suara Dio terhenti. Dia menarik nafas sejenak dan melanjutkan bicaranya lagi,” Lexa sakit…”
Tak ada jawaban dari seberang sana. Hening.
“Sakit parah.” Suara Dio terdengar samar.
“Aku tau. Aku menjenguknya tadi pagi.”
“Dengan Etan?” Suara Dio kini meninggi.
Terdengar helaan nafas panjang Chaca,”Ga’…”
“Kamu tau kan sebenarnya Etan kenapa…please honey… Tell me…”
“Kamu masih sayang Lexa kan Yo…”
Dio tertegun. Bibirnya terkatup rapat. Perasaan itu muncul lagi. Perasaan bersalah yang mengusik hatinya dari setahun yang lalu sejak dia resmi berpacaran dengan Chaca.
“Kok diem? Berarti bener yah dugaanku selama ini… Kamu pura-pura mencintaiku…”
Kata-kata Chaca membuat Dio terkesiap. Semakin dalam kini rasa bersalah itu.
“Ma’af mungkin sekarang bukan waktu yang tepat buat bahas itu… Etan sebenarnya ga’ ke Jogja. Dia ke Singapura buat operasi ginjal. Dia sakit parah. Stadium 3… Seharusnya tiap minggu dia cuci darah, tapi entah kenapa dia ga’ pernah mau. Alasannya dia ga’ ingin meninggalkan Lexa walaupun sehari. Dia juga ga’ ingin Lexa tau penyakitnya. Kemarin dia operasi. Mungkin seminggu lagi dia baru pulang. Cuma itu yang aku tau…”
“Cha…”
“Udah Yo, aku udah tau perasaanmu dari awal kita kenalan… Awalnya kupikir kamu akan melupakan Lexa seiring berjalannya waktu. Tapi, ternyata aku salah. Lexa beruntung.. Dikelilingi dua cowok yang begitu mencintainya.”
Tut…..
Sambungan telfon terputus. Dio menatap layar hp-nya. Ma’af Cha…Gue memang cowok brengsek! Bahkan gue lebih brengsek dari Etan yang ninggalin Lexa karena ga’ mau Lexa tau penyakit yang dideritanya.
Sekarang Dio tahu, kenapa dari awal mereka bertemu, Etan mengatakan sesuatu hal, seolah-olah dia akan pergi jauh dari Lexa suatu saat nanti. Etan yang ga’ bisa melihat Lexa menangis jika dia mati nanti. Etan yang ga’ pernah tahu kalau seseorang yang sangat mencintainya juga sedang berjuang melawan penyakitnya yang entah bisa disembuhkan atau tidak.
Bodoh loe Tan. Lexa juga sakit parah. Tapi dia tetap bertahan demi elo. Harusnya elo tau itu.
Continue
Senin, 10 Oktober 2011
ga' tau judulnya
Kemana cinta pergi?
Kemana cinta yang dulu ia banggakan?
Kemana rasa sayang itu?
Kemana indahnya perbedaan yang slalu ia disatukan?
Bangkainya pun aku tak liat!
Peduli apa orang dengan cintanya?
Mereka tidak ada yang tau siapa dia…
Bungkam saja mulutnya
Biar dia diam dan diam
Biar dia merenung dan merenung
Biar dia tau cinta itu sudah mati!!!!
Arvi 19 november 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
